maritimnewsdotco@gmail.com
Banner Iklan Maritim News

6.000 Benih Ikan Nilem Ditebar untuk Generasi Masa Depan

$rows[judul]

YOGYAKARTA,– Perairan umum Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan besar akibat penangkapan ikan berlebih dan ancaman Jenis Ikan Asing Invasif (JIAI) yang berpotensi menggeser populasi ikan asli Nusantara. Merespons kondisi tersebut, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Daerah Istimewa Yogyakarta mengambil langkah nyata.

Bertepatan dengan momentum peringatan Hari Karantina ke-149, BKHIT DIY bersinergi dengan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta selaku pengelola kawasan, menggelar aksi bakti sosial Restocking (penebaran kembali) Benih Ikan Nilem (Osteochilus vittatus) di perairan Embung Giwangan. Pada Kamis (8/10/2026).

Sebanyak 6.000 ekor benih ikan nilem unggulan yang didatangkan dari mitra tersertifikasi Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB) resmi dilepaskan ke habitat aslinya. Sebelum ditebar, benih-benih ikan tersebut harus melewati tahapan aklimatisasi (adaptasi suhu dan lingkungan) agar benih dapat langsung bertahan hidup dan tumbuh sehat.

Ketua Panitia HUT Karantina ke-149, Budi Susilo, menyampaikan kegiatan restocking ini adalah untuk melestarikan sumber daya perikanan perairan umum dengan memperbanyak populasi ikan-ikan endemik asli Indonesia, salah satunya Ikan Nilem.

"Harapan kami dari pelepasliaran ini, 6.000 benih ikan nilem dapat tumbuh dengan baik dan mengembalikan kesehatan ekosistem perairan. Kami mengajak seluruh masyarakat, bersama kita jaga Embung Giwangan! Warisan budaya dan alam ini adalah tanggung jawab kita bersama agar kelak dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat," pungkas Budi.

Kasubag Tata Usaha UPT Taman Budaya Kota Yogyakarta, Arbianto, yang turut hadir dalam pelepasliaran tersebut, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya.

"Kami mewakili Dinas Kebudayaan dan pengelola Embung Giwangan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada jajaran BKHIT DIY atas kepedulian dan sinerginya. Embung Giwangan bukan hanya sekadar warisan ruang publik dan budaya, tetapi juga elemen lingkungan yang kehidupan di dalamnya harus terus kita rawat," ungkap Arbianto

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)