Foto: Akbar, Fasilitator Komunitas Belajar
Oleh Akbar, Fasilitator Komunitas Belajar*
Opini - Saya meyakini, kendatipun akses informasi begitu terbuka hari ini, banyak diantara kita yang belum mengenal sosok Ki Hajar Dewantara. Sebagian dari kita hanya mengenalnya sebagai Bapak Pendidikan Nasional, tanpa mengikuti utuh perjuangannya.
Sebelum dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan, Ki Hajar tidak pernah fokus kesana. Ki Hajar malah bergelut sebagai politikus dan jurnalis. Itulah mengapa Ki Hajar mahir menulis. Sampai-sampai ditahan dan dibuang akibat tulisannya.
Saat Belanda menjajah Indonesia, Ki Hajar pernah menulis tulisan berjudul Seandainya Aku Seorang Belanda. Dia mengkritik pemerintah kolonial yang menyelenggarakan pesta 100 tahun Nederland lepas dari penjajahan Prancis. Yang membuat Ki Hajar marah, biaya perayaan dibebankan pada masyarakat pribumi. Ki Hajar bilang, kenapa harus masyarakat Indonesia terlibat perayaan tersebut, kita bukan orang Belanda dan kita masih berstatus sebagai negara jajahan. Belanda juga menarik berbagai pajak. Kondisi ini menambah penderitaan pribumi.
Tulisan Ki Hajar membuat marah pemerintah kolonial. H. Mulder, seorang warga Belanda lalu membalas tulisan Ki Hajar. Mulder menulis tulisan berjudul Sekiranya Saya Seorang Anak Negeri. Isi tulisan itu menghina rakyat Indonesia. Selanjutnya, akibat tulisan Ki Hajar, ia ditangkap lalu dibuang ke Belanda selama 6 tahun.
Setelah menjalani masa pembuangan politik, Ki Hajar kembali ke tanah air dan mulai fokus dunia pendidikan. Dia kemudian mendirikan lembaga pendidikan bernama pergerakan pendidikan Taman Siswa. Melalui Taman Siswa, Ki Hajar melakukan perlawanan terhadap Belanda, yang disebut gerakan Kultural pendidikan masyarakat Jawa. Kihajar sebenarnya bernama asli RM Soewardi Soerjaningrat. Ki Hajar merupakan bangsawan Jawa. Namun penampilan Ki Hajar tetap sederhana dan dekat dengan rakyat.
Taman Siswa tergolong sekolah swasta, pada perjalanannya mendapat intervensi Belanda. Pemerintah kolonial menggolongkan Taman Siswa sebagai sekolah liar. Aktivitas belajar mengajar Taman Siswa membuat Belanda khawatir. Pasalnya, Kihajar juga menjadikan Taman Siswa sebagai alat perlawanan politik. Ki Hajar menilai politik kolonial harus dihapuskan dengan menaikkan kualitas pendidikan rakyat pribumi. Dengan membaiknya pendidikan pribumi, semangat nasionalisme melawan penjajah juga meningkat.
Untuk mengantisipasi hal itu, Belanda segera membatasi gerakan Taman Siswa. Pemerintah kolonial memberlakukan Undang Undang Sekolah Liar. Belanda menyebut Taman Siswa sebagai sekolah liar karena kurikulumnya tidak seragam. UU ini juga mengharuskan guru-guru mendapatkan izin mengajar atau bersertifikasi. Sementara untuk memperoleh sertifikasi guru harus melalui pemerintah Belanda.
Untuk melawan UU tersebut, Ki Hajar merekrut elite berjiwa ketimuran dan anti penjajahan. Ki Hajar memandang untuk melawan Belanda membutuhkan dukungan politik dan finansial besar. Perlawanan Taman Siswa dimulai 1 Oktober 1932. Ki Hajar bahkan dengan berani mengumumkan penolakannya terhadap UU Sekolah Liar, langsung ke pemerintah Belanda lewat surat. Seruan perlawanan ini mendapat dukungan dari organisasi seperti Muhammadiyah dan Budi Utomo. Perjuangan Ki Hajar membuahkan hasil. Pada 1933, Belanda terpaksa mencabut UU tersebut untuk meredam perlawanan kaum pribumi.
Dibalik pendirian Taman Siswa pada 3 Juli 1922, Ki Hajar paham betul bahwa pendidikan bisa membantu Indonesia terbebas dari penjajahan. Menariknya, ide pendirian Taman Siswa berasal dari diskusi rutin tiap Selasa Kliwon di kalangan masyarakat Jawa. Mereka mengeluhkan kondisi pendidikan kolonial yang materialistik, individualistik dan intelektualistik. Ki Hajar bersama Rakyat Jawa menilai kondisi tersebut tidak cocok dengan pribumi. Ki Hajar bersama lainnya menginginkan pendidikan humanis dan cinta perdamaian dunia.
Untuk mewujudkan itu, Ki Hajar melalui Taman Siswa mengubah metode pengajaran kolonial dari sistem pendidikan perintah dan sanksi menjadi Pendidikan Pamong. Sistem among memberikan kesempatan anak bertumbuh secara leluasa. Pamong disebut Ki Hajar, harus Tut Wuri Handayani, yang kemudian kita kenal sebagai semboyan pendidikan nasional hari ini. Semboyan itu bermakna guru mengikuti dan mempengaruhi anak agar berjalan ke arah yang baik. Sistem among lebih jauh, mempersilahkan anak bebas mengembangkan bakatnya dan mencari jalan sendiri tanpa menunggu perintah guru.
Usai membaca buku perjuangannya, pengorbanan Ki Hajar meletakkan pondasi awal pendidikan tidak mudah. Bahkan dengan keberaniannya menentang UU Sekolah Liar, ada pepatah yang dipegang teguh Kihajar: lebih baik mati terhormat daripada hidup Nista.
Tulis Komentar