maritimnewsdotco@gmail.com
Banner Iklan Maritim News

Mega Anatasya D Mokoginta Soroti Isu Gender di Forum Maritim: Seruan Melawan Diskriminasi dan Kekerasan terhadap Perempuan

$rows[judul] Foto: Penyerahan cendramata

Jakarta - Isu keperempuanan kembali menjadi sorotan penting dalam panggung nasional, kali ini disuarakan oleh Mega Anatasya D Mokoginta seorang aktivis perempuan dan pembicara dalam Sekolah Duta Maritim Indonesia 2025 yang diselenggarakan oleh ASPEKSINDO (Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia).

Dalam kelas ini, Mega membahas diskriminasi gender, stereotipe, marginalisasi, hingga kekerasan terhadap perempuan yang masih marak terjadi, termasuk di wilayah pesisir dan kepulauan.

Dalam penyampaiannya, Mega menegaskan pentingnya menyatukan perjuangan perempuan dengan pembangunan maritim Indonesia. "Perempuan bukan hanya korban dari adat/budaya yang timpang, tetapi perempuan dapat melawan dan menjadi agen perubahan yang mampu membawa harapan bagi masa depan maritim kita," ungkapnya.

Vivin Rachmawati, delegasi dari Daerah Istimewa Yogyakarta, juga memiliki fokus komitmennya terhadap pemberdayaan perempuan di wilayah pesisir. Vivin menyoroti akses pendidikan yang terbatas, hingga budaya patriarki yang menghambat keterlibatan perempuan dalam sektor kelautan dan perikanan.

"Saya percaya perempuan memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan laut, bukan hanya sebagai penggerak ekonomi keluarga, tapi juga sebagai pemimpin komunitas. Kita harus hapuskan stereotipe bahwa laut hanya milik laki-laki," ujar Vivin penuh semangat.

Melalui ajang Duta Maritim Indonesia yang digagas ASPEKSINDO, para finalis termasuk Vivin, didorong untuk menjadi jembatan antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan maritim yang inklusif dan setara gender.

Kegiatan ini juga menjadi panggung edukasi untuk menumbuhkan kesadaran akan kekerasan berbasis gender yang masih kerap terjadi, termasuk kekerasan terhadap perempuan nelayan, buruh tambak, dan pelaku UMKM pesisir Mega menutup sesi dengan seruan kuat.

"Kita tidak bisa bicara tentang masa depan laut tanpa memastikan perempuan aman, dihargai, dan dilibatkan dalam setiap proses pengambilan keputusan."

Dengan kehadiran tokoh muda seperti Vivin Rachmawati, harapan untuk perubahan paradigma semakin terbuka lebar. Perjuangan melawan diskriminasi gender di wilayah maritim kini tak lagi menjadi wacana, tetapi mulai diterjemahkan dalam aksi nyata.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)