maritimnewsdotco@gmail.com
Banner Iklan Maritim News

BRIN Formulasikan Pakan Ikan Air Tawar Berbasis Produk Sampingan Industri Kulit

$rows[judul]

Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memformulasikan inovasi pakan ikan air tawar berbahan dasar produk sampingan (by-product) dari industri penyamakan kulit, yakni menggunakan bahan baku tepung daging ular dan biawak.

Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Reza Samsudin, mengatakan, kebutuhan pasokan pakan ikan di Indonesia terus mengalami lonjakan tajam seiring tren positif pertumbuhan produksi budi daya perikanan nasional.

Mengutip One Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2025, angka produksi budi daya nasional sepanjang 2024 telah menyentuh level 5.901.008 ton. Dengan asumsi, nilai konversi pakan atau Feed Conversion Ratio (FCR) rata-rata secara nasional berada di angka 1,3, maka industri perikanan budi daya di Indonesia membutuhkan pasokan pakan setidaknya hingga mencapai 7.671.310 ton per tahun.

“Bahwa industri perikanan naik terus. Otomatis apa? Ikan tumbuh, ikan produksi banyak, perlu makan. Ini salah satu segmen bisnis yang tanda kutip sangat promising untuk ke depan, untuk usaha ini,” ungkap Reza, dalam Temu Bisnis Biosains Terapan 2026, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (26/2).

Merespons tingginya volume permintaan pakan di sektor hulu, BRIN mengembangkan pakan ikan tipe tenggelam yang formulasinya telah diselaraskan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Pakan inovatif ini dirancang secara spesifik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, menunjang kecepatan pertumbuhan, efisiensi pakan, serta retensi protein komoditas ikan air tawar.

Inovasi pakan berbasis limbah kulit reptil ini telah diujicobakan secara spesifik pada tiga komoditas utama. Pakan untuk ikan kancra (dewa) diformulasikan menggunakan tepung daging ular, pakan ikan nila menggunakan tepung daging biawak, dan formula pakan ini juga telah terbukti sangat efisien saat diujicobakan secara masif pada ikan lele di berbagai sentra produksi.

Meskipun purwarupa (prototype) yang dikembangkan saat ini berjenis pakan tenggelam, Reza memastikan formulasi ini sangat adaptif diaplikasikan pada skala manufaktur industri.

“Tapi kalau Bapak, Ibu dari teman-teman industri, teman-teman mitra ada yang punya extruder, no problem. Kita bisa buat pakan yang bentuknya floating, yang apung,” jelasnya.

Validasi performa pakan BRIN ini tidak sebatas pada pembuktian skala laboratorium, melainkan telah melalui uji coba multilokasi langsung di berbagai sentra produksi perikanan masyarakat. Pengujian dilakukan di sentra ikan lele di Cirebon, sentra ikan nila dan lele di Bogor, serta sentra perikanan ikan kancra di Sumedang.

Hasil pengujian lapangan menunjukkan efektivitas yang melampaui rata-rata produk pakan komersial. Pada komoditas ikan lele, pakan berbasis limbah tepung daging reptil ini sukses mencatatkan angka FCR di level 0,98. Sebagai perbandingan head-to-head, pakan ikan komersial di kelas yang sama rata-rata masih mencatatkan angka FCR sebesar 1,1.

Capaian nilai FCR 0,98 bermakna bahwa pembudidaya hanya perlu menghabiskan 0,98 kilogram pakan untuk menghasilkan satu kilogram daging ikan lele. Tingkat efisiensi pakan yang sangat tinggi ini dipastikan akan memangkas ongkos produksi secara drastis bagi para pembudidaya yang bergerak di segmen pembesaran.

Dari aspek kontinuitas suplai bahan baku hulu, potensi skalabilitas produk ini tercatat sangat mumpuni. Saat ini, dari satu titik sentra produksi pengolahan kulit saja mampu menyuplai limbah daging hingga tiga kuintal (300 kilogram) setiap harinya. Volume suplai ini dapat ditingkatkan berkali lipat melalui skema kemitraan strategis secara masif dengan berbagai industri pengolahan kulit reptil.

Biaya perolehan bahan baku sisa yang rendah berdampak langsung pada keekonomian harga jual akhir yang sangat kompetitif di pasaran. Hal ini menjadikan inovasi formulasi BRIN sangat relevan dan rasional untuk diadopsi oleh produsen pakan ikan skala kecil hingga menengah.

Implementasi teknologi secara massal diproyeksikan tidak hanya menyajikan solusi sirkular pengolahan limbah industri kulit, tetapi juga mengamankan rantai pasok ketahanan pangan, sekaligus mengintervensi dukungan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mengandalkan protein ikan.

“Kalau lagi ramai MBG, nah, ini masuk juga, dalam artian kita support pakannya, ikannya buat MBG, semua senang,” pungkas Reza.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)