Foto: Profesor kenalkan teknologi perikanan. (Dok istimewa)
Bangka Belitung - Melalui program Dosen Pulang Kampung, profesor dari Institut Pertanian Bogor (IPB) turun langsung ke Desa Batu Beriga untuk berbagi ilmu dan teknologi modern perikanan yang digelar di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Batu Beriga, Kecamatan Lubuk Besar, Selasa (05/08/2025). Kegiatan ini disambut hangat Bupati Bangka Tengah, Algafry Rahman yang mengapresiasi sinergi demi kesejahteraan nelayan.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang akan digelar selama dua hari hingga 06 Agustus 2025. Adapun beberapa dosen dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB yang melaksanakan program ini diketuai oleh Prof. Mohammad Imron. Dosen lainnya, yakni Profesor Uju, Profesor Mulyono, dan Profesor Sugeng Hari Wisudo.
Prof. Mohammad Imron menjelaskan bahwa kehadiran timnya di Desa Batu Beriga merupakan bagian dari program Dosen Pulang Kampung yang tidak terbatas pada kampung halaman dosen saja, melainkan bisa diimplementasikan di daerah lain yang membutuhkan.
“Hari ini kita mengadakan bimbingan teknis penggunaan atraktor cumi, pendingin portable, dan echosounder/fishfinder untuk para nelayan. Kami juga memberikan pelatihan kepada istri nelayan mengenai pengolahan produk berbahan dasar ikan,” jelas Prof. Imron.
Ia mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah, kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Bapak Bupati dan jajaran pemerintah daerah. Harapan kami, apa yang dilakukan hari ini bisa memberikan manfaat nyata bagi nelayan di Desa Beriga,” imbuhnya.
Bupati Bangka Tengah, Algafry Rahman, menyambut baik inisiatif IPB tersebut. Menurutnya, program ini menjadi peluang emas bagi masyarakat nelayan Bangka Tengah, khususnya Desa Batu Beriga, untuk memperoleh pengetahuan dan teknologi baru yang aplikatif.
“Kehadiran profesor-profesor ini adalah bentuk nyata bakti mereka melalui program Dosen Pulang Kampung. Walaupun bukan berasal dari Bangka Belitung, mereka memilih Bangka Tengah sebagai tempat mengabdi dan berbagi ilmu,” ucap Algafry.
Ia menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dalam mendukung produktivitas nelayan, seperti atraktor cumi yang telah diuji coba di Desa Kulur Ilir dan alat pendingin portable inovasi tim IPB.
“Coolbox ini luar biasa karena bisa menggantikan es batu. Menggunakan aki dan panel surya sebagai sumber energi, alat ini tahan hingga 10 jam. Biaya pembuatannya sekitar Rp7 juta hingga Rp8 juta dan bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan nelayan,” jelasnya.
Algafry juga menekankan manfaat echosounder yang dapat mendeteksi gerombolan ikan di kedalaman laut, sehingga diharapkan nelayan serius mengikuti pelatihan ini.
“Saya berpesan, Bapak-Ibu harus sungguh-sungguh mengikuti. Kalau tidak paham, jangan ragu bertanya, agar program ini benar-benar bisa diterapkan,” tegasnya.
Tulis Komentar