*Oleh Akbar
Makassar - Saya tidak tahu pasti, pada momentum apa pertama dan terakhir kali bertemu teman-teman PMKRI Cabang Makassar. Olehnya, saya ingin menuliskan hal berkesan selama mengenal perhimpunan ini.
Sekitar awal periode kepengurusan saya di HMI MPO Cabang Makassar, kira-kira rentang waktu 2021-2022, saya mengundang pengurus PMKRI Cabang Makassar hadir konsolidasi bersama. Saat itu, kita membahas bagaimana kebijakan penghapusan BBM Subsidi Premium, yang hari ini digantikan pertalite. Dari beberapa organisasi, PMKRI Cabang Makassar salah satu organisasi getol mengawal isu ini.
Dari sana, kajian per kajian kami lewati bersama, dari meja satu ke meja lainnya. Saking loyalnya PMKRI, mereka rela menjadikan Margasiswa sebagai pusat diskusi dan advokasi. Sebelumnya, saya tak pernah mengenal PMKRI, juga tak tahu visi perjuangan yang mereka bawa, namun saya seperti berada dirumah kedua, ketika berada di tengah mereka.
Setelah kajian matang, dinding Margasiswa mulai jenuh melihat kami mondar mandir, bicara larut malam, dan menguras uang pembeli gorengan dan kopi, kami putuskan turun ke jalan. Tak ada pilihan lain selain berdemonstrasi waktu itu, agar kebijakan penghapusan BBM Subsidi Premium tak terjadi.
Berjilid-jilid kita demo, panas hujan, badai, lapar, bolos kuliah, tak masalah, demi rakyat tak bertambah susah hidupnya. Bahkan pernah kami berdemo selama 12 jam lebih. Hingga polisi bermotor trail bersenjata lengkap, dengan busana serba hitam, anjing pelacak K9, mengusir kami secara paksa.
Lalu apa yang membuat saya kagum di perhimpunan ini. Jawabannya adalah konsistensi dan solidaritas mereka. Apa yang kita bangun bukan sekadar gerakan kolektif. Pengakuan saya ini mungkin berlebihan di mata pembaca, tetapi apa yang saya tuliskan, yang saya alami selama empat periode belajar di PMKRI Cabang Makassar. Sesuatu yang biasa-biasa saja bagi siapa saja, tapi terasa luar biasa dalam perjalanan aktivisme saya.
Usai berdemo, bercakap dimana-dimana, pemerintah tetap tak berpihak kepada rakyat, kepada kita semua. Akhirnya BBM jenis pertalite resmi menggantikan premium. Harga BBM naik bersamaan dengan naiknya beban masyarakat. Kebijakan ini belum begitu terasa sekarang, namun jika terus diam, sebentar lagi, kita akan dipaksa membeli BBM Pertamax dan pertalite dihapuskan.
Sebenarnya, waktu itu, kami bisa saja mempertimbangkan setuju dengan kebijakan penghapusan premium dengan satu syarat. Asal pemerintah menjamin harga bbm yang diklaim lebih ramah lingkungan, tetap bisa dinikmati oleh semua kalangan. Memang hari ini tukang bentor bisa membeli pertalite namun harus meraih kantong lebih dalam. Hingga hari ini, kami tak percaya dengan klaim pemerintah menghapus premium. Sebab komitmen pemerintah merawat keberlanjutan lingkungan tak sejalan apa yang terjadi di lapangan.
Boro-boro pemerintah mempromosikan BBM ramah lingkungan hidup, di sektor lain justru merusak lingkungan hidup.
Perjuangan yang kita bangun bersama PMKRI cabang Makassar, bukan perjuangan yang murah dan mudah. Perjuangan ini terus berlanjut ke isu lainnya. Kadang untuk rapat konsolidasi, kita merelakan uang pribadi membiayai semangat diskusi. Kopi dan jenis gorengan, selalu tiba-tiba tersedia di meja. Entah uang siapa lagi yang keluar. Dari sini keikhlasan aktivisme diantara kita terjalin. Belum lagi soal tenaga. Bahkan ada yang sakit tetap memegang toa berorasi kala itu.
Kebersamaan antara saya an PMKRI Makassar terus terawat, sekalipun sudah empat kali periode kepengurusan berganti. Saya kadang-kadang berpikir, kapan lagi bisa duduk di kursi plastik ditemani anjing-anjing jinak marga, mengitari kaki ini.
Ternyata waktu masih memungkinkan saya bertemu dengan teman-teman PMKRI meskipun tidak lagi menetap di Makassar. Bahkan setelah menikah pun, saya masih bisa berdiri di bangunan tua bernama marga ini.
Pernah, saya diundang ke marga menghadapi puluhan peserta kader PMKRI Cabang Makassar. Akhirnya saya bisa agak sombong sedikit, sebab hadir tidak lagi bujang, atau sendiri. Sebelum menikah, saya ke marga datang bersama kader-kader HMI. Saya boyong pengurus cabang, pengurus komisariat dan kader lepasan LK 1 sekalipun. Saya mau memperkenalkan mereka arti tiga benang merah, dimana Intelektualitas digunakan untuk kesejahteraan rakyat, Kristianitas untuk keberpihakan kaum tertindas, dan Fraternitas mewujudkan persaudaraan sejati.
Saat datang bersama istri, ternyata para penghuni marga juga terlihat bahagia. Barangkali mereka kasihan selama ini Gegara saya datang ke marga cuma didampingi ikhwan, bahkan datang sendiri, dengan penampilan berantakan. Pada saat menyampaikan materi, saya melontarkan candaan, jika ingin dapat perempuan seperti istri saya, maka berjuanglah untuk rakyat, sebab perempuan sekarang tidak cukup melihat kegagahan, kepintaran, melainkan keberpihakan terhadap kebenaran sebagai alasan utama menerima kita sebagai suami hehehehe.
Terakhir, suatu waktu saya nongkrong di warkop pinggir jalan. Saya mendadak disapa orang. Mereka duduk di samping meja dan bilang, kakak Akbar kader PMKRI ya. Wah pernyataan ini membuat saya tersipu malu sekaligus bangga. Malu karena saya sebenarnya bukan PMKRI, namun bangga karena berkat belajar di PMKRI, saya dikenali kalangan mahasiswa.
Lalu saya menjawab pertanyaan mereka, saya bilang, bukan kader PMKRI, tapi kalau mau belajar nilai perjuangan, datanglah ke Margasiswa, bukan ke hotel Novotel.
Dirgahayu PMKRI Cabang Makassar ke-70 Tahun. Semoga semangat Aktivisme tetap terjaga.
Tulis Komentar