maritimnewsdotco@gmail.com
Banner Iklan Maritim News

BMKG Klaim Program Sekolah Lapang Cuaca Dukung Swasembada Pangan

$rows[judul] Foto: Foto bersama usai pembukaan sekolah lapang cuaca. (Dok istimewa)

Cilacap - Pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali melaksanakan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Sekolah lapang tersebut memperkuat kapasitas nelayan memahami dinamika cuaca dan iklim.

Dwikorita Karnawati selaku Kepala BMKG mengatakan, keberadaan nelayan tidak hanya penting bagi daerah pesisir, tetapi juga bagian dari jati diri bangsa. Menurutnya program ini sejalan visi besar Presiden RI, salah satunya swasembada pangan.

“Nelayan itu sejatinya adalah jati diri bangsa Indonesia. Ketahanan pangan dan gizi tidak akan tercapai tanpa ketersediaan pangan laut. Namun saat ini kita menghadapi tantangan besar, yaitu krisis iklim yang dampaknya sangat dirasakan oleh nelayan,” ujar Dwikorita.

Dwikorita menjelaskan, pemanasan global yang kian cepat sejak 1970-an memicu siklus hidrologi ekstrem seperti hujan lebih lebat, angin lebih kencang, badai lebih sering, hingga potensi gelombang tinggi yang berbahaya bagi aktivitas melaut. Ia bahkan memberi contoh tanda-tanda alam yang dapat dikenali nelayan.

“Kalau melihat awan hitam yang membumbung seperti bunga kol di langit, itu tanda akan segera terjadi hujan lebat disertai angin kencang dan petir. Saat itu nelayan harus segera mencari tempat aman,” tegasnya.

Lebih jauh, ia memperingatkan bahwa dampak perubahan iklim bukan hanya soal badai atau banjir, tetapi juga ancaman kekeringan panjang dan potensi krisis pangan global pada 2050. Oleh karena itu, Dwikorita menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi prediksi cuaca dan aplikasi digital untuk membantu nelayan.

Dalam kegiatan SLCN kali ini, BMKG memperkenalkan aplikasi InaWIS yang mampu memberikan prakiraan kondisi laut hingga 10 hari ke depan, termasuk ketinggian gelombang, potensi hujan lebat, dan peta sebaran ikan.

“Dengan aplikasi ini, nelayan dapat merencanakan waktu melaut dengan aman, mengetahui lokasi sebaran ikan secara tepat, serta menghemat waktu dan biaya operasional. Yang utama, keselamatan nelayan lebih terjamin,” jelas Dwikorita.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)