Foto: Kredit Foto: Ist
Medan - Irawan Sinaga (43), pria asal keluarga nelayan, berhasil mengubah nasib dengan menjadi pengusaha kepiting cangkang lunak. Kesuksesan itu tak lepas dari dukungan PT Inalum yang memberi dorongan besar bagi perkembangan usahanya.
Irawan mulai merintis usaha setelah melihat peluang besar di pasaran kepiting cangkang lunak. Ketidakstabilan tangkapan nelayan yang mayoritas berisi kepiting bercangkang keras mendorongnya memulai budidaya sejak 2009-2010.
Proses budidaya yang dilakukan Irawan terbilang unik dan menarik perhatian. Dari penebaran bibit hingga panen, seluruh tahapan hanya membutuhkan waktu sekitar 45 hingga 50 hari.
"Kami melakukan panen setiap hari untuk memenuhi permintaan pasar," kata Irawan, Kamis, (4/9/2025).
Bibit kepiting hasil tangkapan nelayan dipindahkan secara bertahap antar kolam untuk menjaga kualitas. Kolam yang dikosongkan langsung dibersihkan lalu diisi kembali, sehingga siklus produksi tetap berkesinambungan.
Produk kepiting cangkang lunak hasil budidaya Irawan kini menembus pasar lokal hingga internasional. Selain memenuhi kebutuhan pengecer dalam negeri, produknya juga diekspor ke Eropa melalui perusahaan di Medan dengan pengiriman dua kali seminggu yang menandakan tingginya permintaan.
Harga bibit kepiting dibanderol sekitar Rp65 ribu per kilogram, sedangkan harga jualnya bisa tembus Rp140 ribu hingga Rp145 ribu per kilogram. Selisih harga itu membuat keuntungan cukup menjanjikan, apalagi Irawan kini mampu memanen 20-25 kilogram kepiting setiap hari.
Meski demikian, Irawan tetap harus berhadapan dengan sejumlah tantangan yang tidak ringan. Salah satunya adalah kondisi cuaca ekstrem yang kerap menghambat aktivitasnya, Sehingga untuk mengurangi kerugian, hingga ia memasang kanopi sebagai langkah pencegahan.
"Hujan yang terlalu sering atau panas berlebihan dapat mengganggu kualitas air dan menyebabkan kematian kepiting," jelas Irawan.
Selain itu, tingkat kematian kepiting menjadi perhatian utama karena sangat mempengaruhi keuntungan. "Faktor-faktor ini di luar kendali kami, namun kami terus berusaha meminimalkan dampaknya," tambah dia.
Irawan merekrut 5-6 pekerja lokal untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan. Mereka digaji Rp150 ribu hingga Rp220 ribu per hari dengan tambahan makan malam.
Bantuan hibah dari Inalum senilai Rp 10-15 juta dimanfaatkan untuk membeli material usaha sekaligus menjadi dorongan penting dalam mengembangkan bisnis. Sinergi UMKM dengan perusahaan besar ini terbukti memberi dampak positif bagi perekonomian lokal
Sementara itu, Head of Corporate Communications INALUM, Utrich Farzah komitmen program CSR perusahaan disusun secara strategis untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Ia menyebut, inisiatif itu ditargetkan memberi dampak nyata dan berkelanjutan.
"INALUM menegaskan komitmen untuk menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang berfokus pada keberlanjutan lingkungan dan kemandirian ekonomi masyarakat," ujar dia.
Menurut Utrich, pengembangan UMKM menjadi salah satu pilar utama program CSR INALUM. Ia menyebut, program ini tak sekadar memberi bantuan modal, tetapi juga mendorong UMKM naik kelas agar mandiri dan berdaya saing.
Hingga kini, lebih dari 500 UMKM binaan telah merasakan dampaknya. Rata-rata pendapatan mereka meningkat 20 hingga 30 persen berkat pendampingan tersebut.
"Bahkan, sebagian UMKM sudah mampu menembus pasar nasional, yang turut menciptakan lapangan kerja baru di daerah," ucap Utrich.
Hingga 2025, INALUM telah menyalurkan ratusan program keberlanjutan yang menyasar beragam sektor, mulai dari modal usaha, peralatan produksi, hingga promosi produk. Program ini mencakup kerja sama dengan Bank BRI untuk pembiayaan, pelatihan peningkatan keterampilan UMKM, serta dukungan promosi lewat pameran nasional dan platform digital.
Program ini telah menjangkau ribuan masyarakat di 11 kabupaten/kota, termasuk wilayah operasional perusahaan di Batu Bara dan Toba. Kehadiran program tersebut memberi dampak nyata bagi penguatan ekosistem ekonomi lokal.
Selain itu, INALUM juga memperkuat komitmen lingkungan dengan menggandeng lembaga konservasi. Upaya ini ditujukan untuk melindungi satwa endemik Sumatera Utara, termasuk orangutan, demi memastikan kelestarian bagi generasi mendatang.
"Dengan langkah-langkah ini, INALUM tidak hanya hadir sebagai pelaku industri, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam membangun ekonomi lokal yang berdaya saing dan berkelanjutan," pungkas dia.
Tulis Komentar