Foto: Penulis
*Oleh Ibrahim Rahim
Makassar - Pernyataan yang viral tentang “guru adalah beban negara” entah hoaks atau tidak tetap meninggalkan luka kolektif. Sebab, di balik kalimat itu tersimpan logika yang berbahaya menempatkan profesi guru hanya sebagai angka pengeluaran negara, bukan sebagai pilar berdirinya republik ini.
Guru tidak pernah menjadi beban. Beban sebenarnya adalah pejabat yang gagal mengelola anggaran, proyek mercusuar yang habis triliunan tapi tak berguna, serta kebijakan yang hanya melayani segelintir elit.
Guru, dengan gaji seadanya, tetap masuk kelas, tetap sabar mendidik, dan tetap menyalakan api pengetahuan. Kalau ada yang pantas disebut beban, itu justru mereka yang menikmati fasilitas negara tanpa memberi manfaat nyata.
Sungguh ironis bila pemerintah tega meletakkan kata “beban” di pundak guru. Bagaimana mungkin orang yang melahirkan generasi bangsa diposisikan sejajar dengan defisit fiskal? Infrastruktur bisa hancur, investasi bisa lari, tapi ilmu yang ditanam guru akan terus hidup dalam diri anak-anak negeri. Itulah modal abadi yang tidak bisa dibeli dengan APBN sebesar apa pun.
Mari kita balik logikanya bukan guru yang membebani negara, melainkan negara yang masih berutang besar pada guru. Utang kesejahteraan, utang penghargaan, dan utang janji konstitusi. Selama guru masih dipandang sekadar angka, jangan harap pendidikan akan melahirkan manusia merdeka.
Menghina guru berarti menghina bangsa. Dan bangsa yang menghina gurunya, cepat atau lambat, akan runtuh oleh kebodohannya sendiri.
Tulis Komentar