Foto: Penulis
*Oleh shak (Mahasiswa Makassar)
Makassar - Ditengah tantangan akses dan keterbatasan fasilitas publik, masyarakat desa Kabupaten Enrekang menunjukkan antusias membangun jembatan secara swadaya dengan menonjolkan nilai-nilai norma yang masih kuat melekat di Kabupaten Enrekang.
Adanya keterbatasan fasilitas umum jembatan yang menjadi penghubung vital antara Desa Tokkonan dengan Desa Kaluppini, ini tidak hanya menjadi bangunan fisik akan tetapi juga sebagai simbol kuatnya nilai-nilai sosial dan pranata yang menopang kehidupan masyarakat disana.
Nilai-nilai pranata sosial di masyarakat desa menunjukkan masih terjaga dengan baik ditandai dengan adanya kearifan lokal, gotong royong, rasa tanggung jawab bersama, solidaritas antar desa yang terus menjadi warisan secara turun turun temurun.
Ketika jembatan gantung yang menghubungkan lima Desa rusak diterpa banjir bandang, setahun yang lalu (2024), jembatan penghubung Desa Kaluppini, Desa Lembang Desa Ranga Desa Tokkonan dan Desa Rossoan di Kecamatan Enrekang masyarakat tidak menunggu bantuan pemerinta setempat, mereka antusias gotong royong menggalang dana dan tenaga bahkan rela meyisahkan utang sebesar 14 juta mengutip detiksulsel (31/07/2025).
Terungkap bahwa total biaya pembangunan jembatan senilai Rp 71 serta dana yang berhasil terkumpul dari usaha swadaya masyarakat desa sekitar Rp 57 juta. Dan yang menjadi utang warga setempat setelah melalui verifikasi ada senilai Rp 14 juta utang warga desa.
Masyarakat mempercepat kembali mendapatkan akses bangun jembatan demi kelancaran mobilitas kehidupan sehari-hari walaupun harus menyisakan utang.
Ini mencerminkan betapa kuatnya rasa persaudaraan kolektif atas kebutuhan bersama di tengah keterbatasan dan hambatan. Kearifan lokal masyarakat desa mencerminkan sistem nilai yang menghormati aturan adat dalam memberdayakan sumber daya serta memelihara keharmonisan masyarakat desa di wilayah Kabupaten Enrekang.
Semangat swadaya yang hadir bukan semata karena keterpaksaan, melainkan bagian dari tradisi kekerabatan dan kerja bakti yang menjadi integral kehidupan sosial masyarakat desa. Dengan membangun fisik jembatan yang terbatas masyarakat desa juga meningkatkan nilai-nilai ikatan sosial serta memperkuat identitas budaya. Bukti nyata betapa penting dalam menghadapi hambatan dan tantangan, sekaligus menunjukkan kapasitas masyarakat desa sebagai agen perubahan yang mandiri dan berdaya.
Kejadian ini menjadi contoh jiwa kolektif yang mampu mengangkat harapan bersama demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desa.
Sehingga jembatan bukan hanya sarana fisik, tetapi juga jembatan merupakan nilai yang menghubungkan antar desa sekaligus membuka jalan bagi kemajuan dan kesejahteraan yang lebih baik. Disisi Lain penulis menilai kebutuhan vital, fasilitas publik seperti jembatan mencerminkan kelemahan peran dan respon pemerintah daerah.
Tidak adanya penyaluran bantuan langsung dari pemerintah untuk mengatasi infrastruktur yang bukan jalan desa melainkan jalan kabupaten, sehingga dampaknya menimbulkan beban sosial dan ekonomi yang berat terhadap Masyarakat yang sebenarnya berhak mendapat fasilitas yang layak. Kondisi ini bisa berdampak jangka panjang pada kesejahteraan warga desa sehingga menghadirkan resiko sosial apabila keterbatasan terus berlanjut tanpa intervensi yang memadai dari pihak berwenang.
Tulis Komentar