maritimnewsdotco@gmail.com
Banner Iklan Maritim News

BRIN Ciptakan Kubah Kolam Ikan dan Sistem RAS untuk Pendederan Ikan Nila

$rows[judul]

Cibinong - Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Budidaya Air Tawar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fauzan Ali, memperkenalkan dua teknologi yang telah dipatenkan dan dilisensikan, yaitu kubah kolam ikan serta instalasi recirculating aquaculture system (RAS) untuk pendederan ikan nila.

Menurut Fauzan, pengembangan teknologi kubah kolam ikan berawal dari persoalan yang terjadi di sebuah Balai Benih Ikan (BBI) yang tidak mampu berproduksi optimal. Meski memiliki lahan cukup luas, produksi benih ikan di tempat tersebut sangat rendah.

“Persoalan utamanya adalah perbedaan suhu air kolam yang sangat tinggi antara siang dan malam hari,” ungkapnya, dalam Webinar Aquatalk #5, Kamis (12/3).

Pada siang hari, suhu air kolam dapat mencapai sekitar 30 derajat cesius. Sementara pada malam hari, suhu air turun hingga sekitar 15 derajat celsius.

Perbedaan suhu yang ekstrem ini menyebabkan ikan mengalami stres, nafsu makan menurun, bahkan rentan terhadap penyakit.

“Kondisi tersebut membuat ikan lebih banyak berusaha bertahan hidup daripada tumbuh dan berkembang,” katanya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, tim peneliti mengembangkan teknologi kubah kolam ikan yang berfungsi menutup seluruh permukaan kolam dan diberi atap transparan, membuat panas matahari terperangkap di dalam kubah sehingga mampu menjaga kestabilan suhu air. Dengan teknologi ini, perbedaan suhu antara siang dan malam dapat ditekan hingga kurang dari lima derajat celsius.

Teknologi ini bekerja dengan memanfaatkan energi panas matahari tanpa memerlukan listrik.

“Teknologi konvensional biasanya menggunakan heater otomatis yang membutuhkan listrik dan biaya operasional cukup tinggi. Sementara, kubah kolam memanfaatkan panas matahari sehingga lebih hemat biaya,” ujar Fauzan.

Selain itu, bahan pembuat kubah juga dapat disesuaikan agar lebih ekonomis, misalnya menggunakan rangka bambu atau kayu dengan penutup plastik. Teknologi ini telah diuji coba di BBI Kabupaten Samosir, Sumatra Utara. Hasilnya menunjukkan peningkatan produksi benih ikan secara signifikan.

Setelah pemasangan kubah kolam, produksi benih ikan meningkat hingga mencapai satu juta ekor pada tahun pertama. Ketika kubah dipasang di beberapa kolam sekaligus, produksinya bahkan bisa mencapai tiga juta benih ikan per tahun,” paparnya.

Selain kubah kolam, Fauzan memaparkan teknologi RAS untuk pendederan ikan nila. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air serta menjaga kualitas lingkungan budidaya.

RAS merupakan sistem budidaya yang mengalirkan kembali air melalui proses filtrasi sehingga dapat digunakan secara berulang. Sistem ini dilengkapi berbagai komponen, seperti bak pemeliharaan benih, filter fisik, filter biologis, pompa air, serta tabung penyinaran ultraviolet.

“Air dari bak pemeliharaan akan melewati beberapa tahapan filtrasi sebelum kembali lagi ke kolam pendederan, sehingga kualitas air tetap terjaga,” jelas Fauzan.

Ia menambahkan penggunaan bak pendederan berukuran kecil memudahkan pemantauan kondisi ikan serta meningkatkan kelangsungan hidup benih.

Selain itu, sistem filtrasi yang digunakan juga dirancang untuk menghilangkan zat beracun, terutama amonia, melalui proses biologis oleh bakteri pengurai.

“Dengan sistem filtrasi yang efektif, kualitas air bisa dipertahankan sehingga pertumbuhan benih ikan menjadi lebih optimal,” ujarnya.

Fauzan menilai kedua teknologi tersebut memiliki potensi pasar yang cukup besar, terutama bagi unit usaha pembenihan ikan di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, terdapat lebih dari seribu unit usaha pembenihan ikan yang telah memiliki sertifikat Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB). Hal ini menunjukkan kebutuhan teknologi budidaya yang efisien dan adaptif masih sangat tinggi.

“Teknologi ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai unit pembenihan ikan di Indonesia, terutama di daerah yang memiliki fluktuasi suhu tinggi atau keterbatasan sumber air,” katanya.

Melalui proses lisensi paten, Fauzan berharap inovasi yang dikembangkan peneliti BRIN dapat semakin luas dimanfaatkan oleh masyarakat dan pelaku usaha perikanan. “Hilirisasi riset menjadi jembatan agar inovasi yang dihasilkan peneliti dapat memberikan manfaat nyata bagi sektor produksi dan pengembangan ekonomi,” pungkasnya.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)