Sleman - Tim Program Kreativitas Mahasiswa–Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PKM-PI) UGM berhasil merealisasikan PelletQ-AI, sebuah sistem produksi pakan ikan yang mengintegrasikan platform web, kecerdasan buatan, dan mesin produksi pelet otomatis. Inovasi ini dikembangkan untuk membantu pembudidaya menghasilkan pakan ikan secara mandiri melalui proses formulasi dan produksi yang terintegrasi, sehingga mampu menekan biaya produksi sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi ikan sesuai standar.
PelletQ-AI merupakan hasil kolaborasi mahasiswa lintas disiplin UGM yang terdiri atas R. Gumilang Fikri Rahadiansyah Sanyata (Teknik Industri), Muhammad Wafdan Taqiyya (Teknologi Informasi), Muhammad Zahir Ali (Teknik Elektro), Clarissa Cindy Marta Devany (Akuakultur), dan Farhan Dwi Prabowo (Teknologi Rekayasa Mesin), di bawah bimbingan Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D. dari Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.
Ketua Tim PKM, Gumilang Fikri Rahadiansyah Sanyata, mengatakan pengembangan PelletQ-AI berangkat dari permasalahan yang dihadapi mitra, yaitu Budidaya Lele Pak Nanang di Kalurahan Sumbersari, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu persoalan utama yang dihadapi mitra adalah tingginya harga pakan ikan komersial.
“Saat ini, harga pakan mencapai Rp375.000 per sak, sementara pakan menjadi salah satu faktor krusial yang menentukan keberhasilan usaha budidaya dengan menyumbang sekitar 60-70 persen biaya operasional,” kata Fikri dalam keterangan yang dikirim Senin (7/9).
Menurut Fikri, kondisi tersebut turut memengaruhi keuntungan pembudidaya. Harga jual lele yang relatif tetap membuat kenaikan harga pakan sebagai input produksi tidak diimbangi dengan peningkatan harga jual ikan.
“Akibatnya, keuntungan yang diperoleh mitra mengalami penurunan dan ketergantungan terhadap pakan komersial masih tinggi,” ujarnya.
Selain menghadapi tingginya biaya pakan, mitra juga belum memiliki fasilitas untuk memproduksi pakan secara mandiri. Ketiadaan mesin produksi pakan serta sistem yang mampu membantu menyusun formulasi sesuai kebutuhan nutrisi ikan menyebabkan mitra bergantung sepenuhnya pada pakan komersial.
Berangkat dari permasalahan tersebut, tim PKM-PI UGM mengembangkan PelletQ-AI sebagai solusi yang mengintegrasikan teknologi digital dengan sistem produksi pakan dalam satu ekosistem. Berbeda dengan mesin pencetak pelet konvensional, inovasi ini dilengkapi dengan platform web app.pelletqai.com yang terhubung langsung dengan sistem kecerdasan buatan. Melalui platform tersebut, pembudidaya hanya perlu memasukkan data budidaya serta informasi mengenai bahan baku yang tersedia beserta harganya.
“Sistem AI melakukan optimasi untuk menghasilkan formulasi pakan dengan biaya serendah mungkin tanpa mengabaikan pemenuhan kebutuhan nutrisi sesuai Standar Nasional Indonesia,” katanya.
Hasil optimasi tersebut kemudian dikirimkan secara otomatis ke mesin PelletQ-AI sebagai acuan proses produksi. Seluruh proses produksi dilakukan secara otomatis di dalam mesin, mulai dari pencampuran bahan baku, pemasakan menggunakan sistem pemanas (heater), ekstrusi, pencetakan, hingga pemotongan pelet dalam satu rangkaian kerja yang terintegrasi.
“Dengan demikian, pelet yang dihasilkan telah matang dan siap digunakan sebagai pakan ikan tanpa memerlukan proses lanjutan,” ungakapnya.
Lebih jauh Gumilang menambahkan, inovasi ini PelletQ-AI dirancang untuk menjawab permasalahan pembudidaya secara menyeluruh. PelletQ-AI tidak hanya berfungsi sebagai mesin produksi pelet, tetapi merupakan sistem produksi pakan yang mengintegrasikan platform web, kecerdasan buatan, dan proses manufaktur dalam satu kesatuan.
“Melalui sistem ini, pembudidaya dapat memperoleh formulasi pakan dengan biaya yang lebih efisien namun tetap memenuhi standar nutrisi, kemudian langsung memproduksinya secara mandiri.”
Tulis Komentar