Foto: Ketua Umum Pimpinan Komisariat IMM Faperta Unismuh Makassar, Ahmad Syafii Hafid. (doc. pribadi)
Oleh: Ahmad Syafii Hafid
Opini - Saya sering bertanya kepada diri sendiri: apa artinya menjadi pemimpin organisasi mahasiswa di zaman sekarang? Dulu, senior-senior kita bercerita tentang malam yang panjang diisi diskusi, unjuk rasa, dan agitasi lewat poster yang disebar dari kampus ke kampus.
Hari ini, wajahnya berbeda. Satu unggahan di Instagram bisa lebih cepat menyebar daripada selebaran seribu lembar. Satu cuitan bisa menggerakkan massa lebih cepat daripada orasi di mimbar. Dan saya, sebagai Ketua Umum IMM Fakultas Pertanian Unismuh Makassar, merasakan langsung bagaimana era digital ini mengubah ritme kepemimpinan mahasiswa.
Tugas saya bukan hanya mengelola organisasi di ruang fisik rapat, diskusi, dan musyawarah, tetapi juga merawat narasi di ruang digital. Kadang saya merasa dua dunia ini saling tarik-menarik. Di ruang nyata, kita bicara konsep, gagasan, dan strategi jangka panjang. Tapi di ruang digital, perhatian publik bisa hilang dalam hitungan detik jika kita tak segera mengemas pesan dengan singkat dan menarik. Di sinilah dilema itu muncul: bagaimana menjaga kedalaman tanpa kehilangan daya tarik?
Selayaknya kader, saya telah mengenyam narasi tentang IMM yang lahir disertai trilogi & trikoda yang khas: Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas. Saya juga sangat percaya, tiga nilai itu adalah kompas para kader agar tetap tegak di tengah derasnya arus digital.
Religiusitas mengingatkan saya untuk tetap berpegang pada nilai-nilai spiritual meski dunia maya sering bebas nilai. Intelektualitas menuntut agar setiap unggahan bukan sekadar konten viral, tetapi berakar pada bacaan, refleksi, dan diskusi serius. Humanitas menegaskan bahwa kepemimpinan IMM tidak boleh berhenti di layar gawai, tetapi harus berpihak pada rakyat kecil, pada persoalan nyata di sekitar kita.
Sebagai mahasiswa yang sedang belajar memimpin, saya melihat era digital bisa jadi jalan transformasi. Bayangkan jika IMM menggunakannya untuk memperluas kaderisasi: menggelar kelas virtual tentang Islam berkemajuan, membuat konten advokasi tentang krisis pangan, yang secara empirik saya saksikan langsung di Gowa, atau menyuarakan nasib petani lewat kanal resmi organisasi. Semua itu mungkin. Saya sendiri merasakannya: saat kami menulis dan membagikan narasi perjuangan IMM Faperta di media sosial, suara itu bergema lebih luas, berkali lipat mengalahkan narasi yang disampaikan di lorong-lorong diskusi kampus.
Tapi saya juga khawatir, era digital bisa menjelma degradasi. Ibarat pedang bermata dua, saya pernah melihat bagaimana forum musyawarah di komisariat lebih sepi daripada grup WhatsApp. Saya pernah mendapati kader lebih sibuk mengurus desain unggahan dibanding membaca materi kajian. Dan saya tahu, godaan untuk menjadikan organisasi sebagai panggung pencitraan pribadi itu nyata. Jika itu dibiarkan, maka kepemimpinan IMM hanya akan riuh di permukaan, tapi kosong di kedalaman.
Karena itu, saya ingin belajar menyeimbangkan. Saya ingin tetap hadir di forum musyawarah, tetap membaca buku, tetap menyapa petani yang menjadi mitra kegiatan IMM Faperta, tetapi juga tidak abai terhadap dinamika digital. Saya ingin memastikan bahwa setiap unggahan tak sekadar menekankan estetika dan keelokan dipandang mata, tetapi membawa pesan mendalam dengan semangat Trilogi IMM.
Bagi saya, menjadi pemimpin IMM di era digital bukan berarti tunduk pada algoritma, tapi berani menggunakannya untuk memperluas dakwah, kaderisasi, dan advokasi. Kepemimpinan hari ini bukan sekadar tentang siapa yang paling banyak pengikutnya, tapi siapa yang paling setia menjaga nilai.
Saya menulis ini untuk mengingatkan diri saya sendiri: bahwa menjadi pemimpin di masa depan bukan hanya tentang strategi, tapi juga tentang kejujuran pada nilai. IMM sudah memberi saya kompas itu. Tugas saya adalah memastikan kompas itu tetap memandu langkah, meski dunia terus berubah, meski layar gawai terus berganti, meski algoritma terus berputar.
Dan pada akhirnya, saya percaya IMM bukan sekadar organisasi mahasiswa. Ia adalah sekolah kepemimpinan yang menyiapkan generasi penerus berintegritas, bukan hanya menjadi pengurus komisariat, tetapi menjadi pemimpin bangsa.
Mari menjaga kader IMM dari degradasi, mari kita dorong IMM menuju transformasi. Karena dari IMM, kita belajar satu hal penting: kepemimpinan bukanlah soal siapa yang paling depan, melainkan siapa yang paling setia berjalan bersama nilai.
Tulis Komentar