Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat kontribusi riset akuakultur dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui pengembangan budidaya air tawar yang inovatif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Komitmen tersebut dikemukakan dalam rapat koordinasi monitoring dan evaluasi (Monev) kinerja tahun 2025 dengan tema “Inovasi dan Riset Budidaya Air Tawar untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional”.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Budidaya Air Tawar (PRBAT), Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN ini berlangsung di Gedung ICC, Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno (KST Soekarno), Cibinong, Jawa Barat, Rabu (10/12).
Pada kesempatan tersebut, berbagai kelompok riset mempresentasikan sejumlah capaian strategis, tantangan, serta rencana pengembangan komoditas unggulan. Kelompok Finfish melaporkan kemajuan pengembangan strain ikan nila hibrida dan nila salina yang ditargetkan rilis pada 2028–2029, dengan tahapan uji performa dan uji multilokasi direncanakan mulai 2027.
Sementara itu, kelompok Catfish mengembangkan ikan patin dan lele hibrida, sekaligus membuka diskursus awal mengenai potensi penerapan genetic engineering sebagai arah riset jangka panjang.
Kelompok GATOSI yang berfokus pada gabus, tor, dan sidat menekankan pentingnya penyusunan standar operasional prosedur (SOP) budidaya agar hasil riset dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat. Di sisi lain, kelompok Crustacea mengarahkan riset pada hilirisasi udang galah sebagai komoditas unggulan air tawar bernilai ekonomi tinggi.
Pengembangan komoditas potensial juga menjadi perhatian. Kelompok Ikan Potensial melaporkan riset ikan papuyu yang telah memasuki tahap karakterisasi genetik, serta mengusulkan pengembangan ikan betutu dan ikan bilih sebagai agenda riset berikutnya. Adapun kelompok Ikan Hias memfokuskan inovasi pada peningkatan kualitas genetik untuk menghasilkan karakter visual yang lebih menarik dan bernilai jual tinggi, dengan prioritas pada ikan cupang alam dan ikan rainbow endemik Indonesia.
Inovasi berbasis bioteknologi turut menjadi sorotan dalam monev ini. Kelompok Bioteknologi Reproduksi Ikan memaparkan pengembangan teknologi transplantasi sel germinal, cryobank gamet, serta produksi benih monoseks yang ramah lingkungan. Sementara itu, kelompok Genetika dan Omik Ikan menekankan capaian sekuensing genom dan pemanfaatan bioinformatika sebagai fondasi pemuliaan selektif berbasis data molekuler.
Di bidang kesehatan ikan, kelompok Pengendalian Penyakit Ikan memperkenalkan sejumlah inovasi, antara lain probiotik indigenus PRONUS, Nano-Fukosantin, vaksin Streptococcus iniae untuk ikan nila, primer deteksi Anguillid Herpesvirus-1, serta pemanfaatan alga sebagai agen anti quorum sensing. Kelompok Rekayasa Lingkungan Akuakultur juga mempresentasikan purwarupa biokoagulan ramah lingkungan dan pengembangan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendukung sistem recirculating aquaculture system (RAS).
Sementara itu, kelompok Teknologi Akuakultur dan Akuakultur Presisi menekankan pengembangan sistem budidaya yang presisi, adaptif terhadap perubahan lingkungan, dan rendah emisi. Salah satu capaian yang disoroti adalah pengembangan ikan nila salina-2 yang terintegrasi dengan sistem pemantauan kualitas air secara real-time.
Secara keseluruhan, monev menjadi ruang strategis untuk meninjau capaian riset, memperkuat tata kelola kelembagaan, serta menyelaraskan arah pengembangan riset budidaya air tawar agar semakin relevan dengan kebutuhan nasional. Forum ini juga berfungsi sebagai sarana konsolidasi lintas kelompok riset dalam mempercepat transformasi inovasi akuakultur yang berdaya saing, adaptif, dan berkelanjutan.
Terkait dengan itu, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, menegaskan bahwa monitoring dan evaluasi bukan sekadar instrumen penilaian administratif, melainkan momentum strategis untuk memperkuat kapasitas peneliti dan kualitas luaran riset.
Ia menekankan pentingnya pembentukan Tim Klinik Karya Tulis Ilmiah dan Kekayaan Intelektual sebagai upaya sistematis untuk mendorong peningkatan publikasi ilmiah dan perlindungan hasil inovasi. Kemudian penguatan manajemen risiko yang lebih terukur, kejelasan target tahunan, serta pemanfaatan teknologi mutakhir dalam riset akuakultur, termasuk genome editing dan program genetic improvement.
Selain itu, penyempurnaan skema publikasi dan insentif melalui penyesuaian Standar Biaya Masukan (SBM) BRIN diharapkan dapat memberikan dukungan lebih optimal bagi periset dalam menghasilkan publikasi bereputasi internasional. Penguatan fasilitas riset dan infrastruktur, termasuk pengembangan laboratorium basah dan inisiatif integrated farming bersama Pusat Riset Peternakan, juga menjadi perhatian.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN, Fahrurrozi, menyampaikan apresiasi atas kinerja seluruh tim peneliti. Ia menilai capaian riset tahun 2025 menunjukkan progres signifikan dan mencerminkan komitmen kolektif dalam menjalankan roadmap riset. Fahrurrozi juga menekankan pentingnya pembentukan tim klinik penulisan proposal dan publikasi sebagai strategi untuk memperkuat peluang kerja sama serta pendanaan eksternal.
Melalui pelaksanaan monev ini, Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem riset akuakultur yang produktif, inovatif, dan berorientasi pada kebutuhan strategis nasional. Dengan konsolidasi yang kuat dan arah riset yang terukur, BRIN optimistis inovasi budidaya air tawar akan terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan pangan Indonesia.
Tulis Komentar