maritimnewsdotco@gmail.com
Banner Iklan Maritim News

Mahasiswa ITS Kenalkan Perangkap Ikan Tenaga Surya

$rows[judul] Foto: Foto mahasiswi ITS bersama nelayan

Kedung Colek - Minimnya penerapan teknologi tepat guna di wilayah pesisir memicu kebutuhan akan solusi inovatif. Menyikapi hal ini, tim mahasiswa Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan inovasi perangkap ikan otomatis berbasis energi surya.

Ketua tim Aditya Surya Eka Pratama mengungkapkan bahwa nelayan pesisir Kenjeran, Kelurahan Kedung Cowek, Surabaya selama ini masih mengandalkan metode manual dalam menangkap ikan. Cara tersebut dinilai kurang efisien dan cukup berisiko bagi kesehatan karena nelayan harus menyelam sendiri untuk memasang serta mengangkat perangkap. “Oleh karena itu, kami merancang alat ini agar bisa digunakan siapa pun, termasuk nelayan berusia lanjut,” ujar Aditya.

Alat bernama Solar Photovoltaic Fish Trap ini, paparnya, bekerja dengan memanfaatkan panel surya berkapasitas 600 watt-peak (Wp) sebagai sumber energi utama. Energi tersebut disimpan dalam baterai dan digunakan untuk menjalankan mesin penarik beban (winch).

“Pengoperasiannya cukup dengan menggunakan dua tombol untuk menurunkan dan mengangkat jaring perangkap,” terang mahasiswa angkatan 2022 tersebut.

Lebih lanjut, Aditya menjelaskan bahwa alat tersebut dilengkapi dengan lampu bawah air yang menyala saat perangkap berada di dasar laut. Cahaya ini berfungsi untuk menarik ikan seperti kerapu yang memiliki sifat fototaksis atau tertarik pada cahaya.

“Dengan sistem ini, proses penangkapan dapat dilakukan tanpa menyelam sehingga lebih aman bagi nelayan,” tuturnya.

Dalam penerapannya, lelaki kelahiran Temanggung tersebut menyebutkan bahwa purwarupa Solar Photovoltaic Fish Trap telah dipasang di kawasan pesisir Kenjeran dan diuji coba bersama kelompok usaha bersama (KUB) nelayan setempat. Selain itu, timnya juga memberikan pelatihan mengenai cara penggunaan dan perawatan alat, mulai dari pembersihan panel surya hingga pengecekan kabel.

Ia pun menguraikan bahwa pada awal penggunaan alat tersebut terjadi peningkatan efisiensi yang signifikan. Jika sebelumnya nelayan harus menunggu dua hingga tiga hari untuk mengangkat perangkap, kini panen dapat dilakukan setiap hari. Selain itu, perangkap ini dapat dipindah ke lokasi potensial sesuai musim migrasi ikan.

“Ini tentunya jauh lebih fleksibel dibanding perangkap konvensional yang menetap,” lanjut Aditya.

Selain memberi dampak langsung pada produktivitas nelayan, inovasi tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDG). Dukungan ini terutama tercermin pada SDG ke-7 tentang energi bersih dan terjangkau, SDG ke-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta SDG ke-17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.

Di akhir, Aditya memandang bahwa inovasi yang menerima pendanaan dari Pertamina Foundation Muda ini merupakan wujud kolaborasi antara teknologi dan pemberdayaan masyarakat. Ia pun berharap inovasi ini dapat diterapkan di daerah pesisir lainnya.

“Kami ingin agar masyarakat tidak hanya menggunakan, tetapi juga bisa memproduksi dan menjual alat ini sendiri,” tutupnya penuh harap.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)