Foto: Ilustrasi
*Ditulis oleh Akbar
Opini - Tidak semua orang merasakan momentum lebaran sebagai kejadian yang sepenuhnya menyenangkan. Kita mungkin menjadi salah satu yang akan merasakan serangan mental saat sanak keluarga berkumpul dirumah. Kamu akan dihujani pertanyaan yang membuat dada sesak. Pertanyaan kapan nikah misalnya. Jika kita jomblo, apalagi sendirinya sudah berabad abad lamanya, pertanyaan ini sungguh menyiksa batin.
Soalnya, pilihan menikah bukan keputusan mudah. Terlebih lagi menikah jaman sekarang, dipenuhi unsur unsur gengsi yang berat dari segi finansial. Termasuk bagi kita yang punya trauma asmara masa lalu. Menikah adalah menjalani hidup sehidup semati. Dan yang menentukan waktu nikah itu, seharusnya merupakan hak kita sepenuhnya. Yang akan menjalaninya juga adalah kita sendiri, bukan orang lain.
Begitu pula dengan pertanyaan sejenisnya, yang juga menyebalkan. Kenapa belum punya anak, kenapa belum punya rumah, kenapa kurusan, kenapa tambah hitam, kenapa belum punya mobil, dan seterusnya. Pertanyaan semacam ini bagi kebanyakan kita membuat malas kumpul dengan keluarga. Beberapa kita mungkin sudah merencanakan sesuatu agar bisa menghindari pertemuan menyiksa ini.
Hebatnya, pertanyaan pertanyaan tersebut membuat suasana menyebalkan bagi kita, tampak membahagiakan bagi sanak keluarga yang berkumpul. Kita merasa seperti duduk di meja persidangan keluarga. Kamu seperti sengaja dihadirkan untuk dihakimi, dipermalukan, disalahkan, dan semua anggota keluarga, para keponakan, para sepupu mulai yang terdekat sampai yang paling jauh, mendengar semua ucapan itu. Tepat dihari dimana kita berharap menjadi momentum saling bermaafan, tetapi malah menjadi orang yang butuh belas kasih.
Saya kadang bertanya tanya, dari mana kebiasaan bertanya seperti itu dimulai. Sebenarnya, kita tidak menolak ditanya tanya. Tapi kakek nenek, bapak ibu, tante, tolong bertanyalah dengan menjaga perasaan kita tetap nyaman. Bukan pertanyaan yang bikin trauma, menyisakan luka batin.
Kita bisa berharap dapat bebas dari pertanyaan pertanyaan seperti itu. Namun kita perlu mawas diri, sebab pertanyaan ini telah menjadi tradisi, bahkan telah mendarah daging dalam diri kaum tua dan orang yang tidak peduli dengan perasaan seseorang.
Untuk kalian yang suka bertanya soal privasi orang terlalu detail, sebaiknya hentikan perilaku jahat ini. Sampaikanlah pertanyaan yang menjaga perasaan orang tetap nyaman. Bertanyalah yang ringan ringan seperti perihal kabar atau tentang situasi di perantauan misalnya. Lagi pula jika pertanyaan jahat itu dijawab, belum tentu kalian bisa memberikan respons yang baik.
Cobalah memulai pertemuan lebaran dengan membahas topik penting, yang lebih bermanfaat. Membahas pelaksanaan MBG di daerah masing masing contohnya. Kita bisa membincangkan menu MBG, yang menurut ahli serangga, setiap dapur menyajikan daging sapi. Kita juga bisa membahas bagaimana ratusan siswa bisa dilarikan ke rumah sakit padahal menyantap makanan bergizi. Topik dua arah seperti ini bahkan bisa kita diskusikan sampai toples kue nastar kosong, gelas sirup bocor dan buras tertelanjangi sempurna, tanpa sisa.
Selanjutnya, jika bapak ibu, butuh topik lain, kita bisa bercerita panjang soal geopolitik dunia, misal perang Iran Israel Amerika. Bahasan semacam ini penting supaya kita sebagai orang warga biasa, bisa selamat jika diserang rudal canggih negara lain. Siapa tahu, hasil diskusi kita soal perang ini bisa menjadi catatan untuk pemerintah agar negara ini tidak mati konyol hanya dikarenakan tentara dan polisinya sibuk mengurusi dapur MBG ketimbang menyempurnakan pertahanan negara.
Kita, terutama yang masih berada dalam barisan orang sementara berproses, menjadikan momentum lebaran untuk saling menjaga perasaan. Pertanyaan pertanyaan yang tidak mengenakkan perasaan orang, sebaiknya disimpan saja, simpan selama lamanya. Mari kita bersepakat bahwa hidup ini tidak selalu tentang check list pencapaian.
Tapi bagaimana jika kita harus menghadapi pertanyaan pertanyaan yang tak berperi perasaan? Ayo kita tanggapi dengan cara cerdas. Ketika ditanya kapan nikah, jawab, kalau mereka sudah siap menyumbang 1 miliar buat resepsi kamu. Gaji kamu berapa, jawab, gaji masih cukup hidup tenang tanpa ikut campur urusan orang lain. Kok sekarang gemukan, alhamdulillah hidup tercukupi, dari pada kurus stres memikirkan hidup orang lain.
Bagaimana dengan saya? Saya justru senang ditanya tanya, misalnya kapan istri nambah jadi dua.
Tulis Komentar