maritimnewsdotco@gmail.com
Banner Iklan Maritim News

BMKG Tingkatkan Kemandirian Pemodelan Maritim Melalui Pelatihan InaCAWO Hindcast

$rows[judul]

Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meningkatkan kapasitas teknis dan kemandirian sumber daya manusia dalam pengoperasian sistem pemodelan maritim melalui In House Training (IHT) Pemodelan Maritim Indonesia Coupled Atmosphere-Wave-Ocean Model (InaCAWO) Hindcast Tahun 2026. Pelatihan yang berlangsung pada 20-22 Oktober 2026 di Kantor Pusat BMKG, Jakarta, ini menjadi bagian dari pengembangan sistem pemodelan terintegrasi atmosfer, gelombang, dan laut untuk mendukung layanan informasi cuaca maritim di Indonesia. 

Pelatihan diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (PPSDM MKG) bekerja sama dengan tim The Development of Maritime Meteorological Information System in Indonesia: Procurement of the Modelling System with Big Data and Artificial Intelligence (including maritime observation equipment, remote sensing, and system integration) – MMS2 Package 3. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan perekayasa dan prakirawan BMKG dalam mengoperasikannaCAWO, yaitu model numerik yang mengintegrasikan dinamika atmosfer, gelombang, dan laut.

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, saat membuka pelatihan pada Selasa (20/10/2026), menekankan pentingnya penguasaan pemodelan kopel (coupled model) meteorologi dan oseanografi bagi Indonesia sebagai negara maritim. Kondisi cuaca di wilayah perairan dipengaruhi oleh interaksi atmosfer dan lautan sehingga keduanya perlu dianalisis secara terintegrasi melalui sistem pemodelan.

Salah satu kemampuan yang dikembangkan melalui InaCAWO adalah simulasi hindcast, yakni rekonstruksi kondisi atmosfer dan laut pada periode lampau. Data historis tersebut dapat dimanfaatkan untuk menganalisis kejadian maritim ekstrem, mengevaluasi kinerja model numerik, serta merekonstruksi kondisi cuaca dan gelombang saat terjadi insiden pelayaran.

“Simulasi hindcast ini sangat penting untuk merekonstruksi kondisi cuaca dan laut di masa lalu. Jadi, bila sewaktu-waktu terjadi kecelakaan kapal atau insiden di laut, kita dapat melihat kembali dan menganalisis bagaimana kondisi atmosfer serta gelombang di perairan tersebut pada saat kejadian,” ujar Guswanto.

Ia menambahkan bahwa pengembangan model numerik perlu disertai evaluasi dan kalibrasi secara berkelanjutan. Hasil pemodelan tidak selalu sepenuhnya sesuai dengan kondisi aktual sehingga pengujian, penyesuaian parameter, dan evaluasi menggunakan data observasi diperlukan untuk mengurangi kesalahan prediksi.

Guswanto juga berharap pelatihan ini dapat membangun komunitas praktisi pemodelan yang saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Peserta diharapkan mampu menerapkan kompetensi yang diperoleh di unit kerja masing-masing untuk mempercepat inovasi teknologi dan meningkatkan kemandirian operasional BMKG.

“Harapan kami, kegiatan pelatihan ini tidak hanya meningkatkan kompetensi individu, tetapi juga membangun komunitas praktisi pemodelan yang saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Kami juga berharap para peserta menjadi agen perubahan di unit kerja masing-masing untuk mempercepat inovasi teknologi, digitalisasi, dan kemandirian BMKG dalam operasional sistem pemodelan maritim nasional,” tuturnya

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)