Majalengka - Periset Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan BRIN Diana menjelaskan, angka konsumsi ikan pada 2010 hingga 2024 meningkat dari 30,48 kilogram per kapita menjadi 58 kilogram per kapita. Ia memberikan pemahaman terkait gizi dan nilai tambah ikan air tawar, serta diversifikasi pengolahannya.
Hal ini disampaikan Diana kepada kelompok usaha yang tergabung dalam inkubator bisnis di bawah Yayasan Inotek, pada Workshop hari kedua tentang Teknologi Hilirisasi perikanan, di Kabupaten Majalengka, Jumat (17/04).
“Menurut data KKP pada tahun 2020-2025, produksi kelautan dan perikanan Indonesia secara konsisten terus menerus mengalami kenaikan dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 3,8%. Dengan rata-rata produksi untuk budidaya ikan pada tahun tersebut adalah 5,84 juta ton. Provinsi dengan tingkat konsumsi ikan tertinggi adalah Maluku, mencapai 79,49 kilogram per kapita,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia merinci secara umum komposisi kimia ikan terdiri dari air, protein, lemak, karbohidrat, vitamin-mineral, dan pigmen. Dengan tanda-tanda ikan segar dan tidak segar terlihat pada bagian mata, insang, warna, bau, daging, sisik atau kulit, dan perut ikan.
“Beberapa produk hasil olahan pada workshop ini diperlihatkan, mulai abon ikan kemudian nugget, dan ada juga tepung tulang ikan di mana produk-produk tersebut harapannya dapat dikomersialisasikan sehingga tumbuh startup baru dan UMKM baru yang mengembangkan produk tersebut,” terangnya.
Diana menjelaskan, setiap produk olahan merupakan penganekaragaman jenis produk olahan hasil perikanan. Baik dari bahan baku yang belum dimanfaatkan atau sudah dimanfaatkan harus tetap memperhatikan faktor mutu dan gizi. Hal ini merupakan usaha penting dalam peningkatan konsumsi produk perikanan baik kualitas maupun kuantitas termasuk peningkatan nilai jual.
“Meskipun, terdapat bagian-bagian dari komoditi hasil perikanan yang tidak digunakan sebagai bahan baku dalam proses pengolahan produk utama. Seperti kulit, sisik, tulang, hati, kepala, gonad, gelembung renang, karapas, dan lain-lain,” imbuhnya.
Selain produk olahannya, pengemasan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pendistribusian ikan terlebih dalam pemasaran. Bukan saja sebagai tempat mewadahi, namun wadah ini pun harus cocok dengan produk, tidak mudah rusak, dan tidak mencemari produk. Pengemasan juga memiliki fungsi untuk melindungi produk dan memperpanjang umur simpan.
“Fungsi lainnya, pengemasan harusnya mempermudah penggunaan baik untuk produsen dan konsumen. Pengemasan ini pun akan menjadi identifikasi produk berupa informasi isi kemasan, menjelaskan ingredients, dan cara penyimpanannya,” jelas Diana.
Keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya atau bentuk lain juga perlu diperhatikan. ”Bisa disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada kemasan atau merupakan bagian kemasan pangan,” tambahnya.
Berkenaan dengan label, ini menjadi bersifat wajib harus ada bagi setiap orang yang memproduksi, termasuk bagi siapa saja yang memasukkan pangan yang dikemas ke dalam wilayah Indonesia. Sehingga, untuk pencantuman label dilakukan sedemikian rupa agar tidak mudah lepas dari kemasan, tidak mudah luntur atau rusak, dan terletak pada bagian kemasan pangan yang mudah dilihat dan dibaca oleh siapapun.
Menurut Diana label imi sekurang-kurangnya memuat nama produk, berat atau isi bersih, nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia, daftar bahan yang digunakan, tanggal, bulan dan tahun kadaluarsa, dan kode produksi.
“Keterangan dan atau pernyataan harus benar dan tidak menyesatkan, termasuk keterangan kandungan gizi yang meliputi nilai nutrisi, ukuran takaran saji, nilai energi per takaran saji, dan persentase AKG yang dianjurkan,” jelasnya.
Desi Sartika selaku Koordinator Penjual Perikanan se-kabupaten Majalengka hadir mendampingi empat kelompok perikanan, tiga kelompok kemasan dan satu koperasi yang dibentuk oleh Kementerian Kelautan.
“Kelompok terpilih ini diikutkan workshop agar dapat memperluas teknologi, hilirisasinya itu menjadi meningkatkan mutu produk, kemudian juga daya saing produk mulai dari kemasan dan teknologi dari hasil produk kita sendiri,” terangnya.
Desi berharap kegiatan ini bisa terus berkesinambungan, seperti pemasaran dan keikutsertaan pada bazar atau pameran-pameran di tingkat daerah maupun pusat. “Kami sampaikan apresiasi kepada periset BRIN yang telah menjadi instruktur dan pemateri di acara ini, mudah-mudahan dengan adanya terobosan inovasi teknologi dari BRIN bisa lebih meningkatkan daya produk yang ada di Kabupaten Majalengka,” harapnya.
Menanggapi hal tersebut, Diana menyampaikan juga harapannya atas hasil riset BRIN yang sudah disampaikan bisa bermanfaat dan menjadi nilai tambah.
“Dari sisi periset BRIN, kami berharap muncul mitra-mitra penerus dari semua inovasi yang sudah kami lakukan selama ini. Tentunya tidak berhenti hanya sampai pada riset saja, tapi juga sampai kepada kemanfaatan di masyarakat,” pungkasnya.
Tulis Komentar