Yogyakarta – Hasil riset mengungkap praktik sosial dan nilai-nilai adat di Negeri Morella, Ambon, Provinsi Maluku, berkontribusi dalam memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir/nelayan. Kajian ini dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban (PRKKP), Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR ARBASTRA) yang berkolaborasi dengan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang diketuai Muh Isnanto.
Peneliti Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban BRIN, Dandung Budi Yuwono menjelaskan bahwa tradisi dan identitas lokal di Negeri Morella menjadi modal sosial utama dalam menjaga keberlanjutan hidup masyarakat.
Sistem adat seperti Sasi berfungsi sebagai mekanisme perlindungan sumber daya alam, baik laut maupun darat, agar tidak dieksploitasi secara berlebihan. Aturan tersebut disepakati melalui musyawarah adat secara turun-temurun dan dijalankan secara kolektif.
“Tim peneliti juga melihat bahwa lembaga adat seperti Raja, Saniri Negeri, dan perangkat adat lainnya, bersama masyarakat, mengatur tata kelola sumber daya sekaligus menjaga stabilitas sosial. Praktik ini memperlihatkan bahwa nilai lokal berperan penting dalam membentuk ketahanan komunitas (community resilience),” jelas Dandung, Kamis (5/3).
Dari sisi ekonomi, menurutnya masyarakat Morella mengembangkan sistem berbasis kearifan lokal melalui mekanisme berbagi hasil tangkap yang dikenal sebagai Rureha. Nelayan secara sukarela menyisihkan sebagian hasil tangkapan untuk didistribusikan kepada warga yang membutuhkan melalui masjid dan tokoh adat, sehingga memperkuat jaring pengaman sosial berbasis komunitas.
Selain itu, terdapat tradisi Sesaji atau donasi kolektif yang dihimpun oleh tokoh adat atau Marinyo untuk membantu warga kurang mampu. Sistem solidaritas ini hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Penelitian juga mengidentifikasi strategi hybrid survival, yakni pola kerja ganda nelayan yang beralih menjadi petani atau pekebun saat musim timur atau cuaca buruk, sebagai bentuk adaptasi ekonomi menghadapi ketidakpastian alam.
“Secara akademik, riset ini menegaskan bahwa integrasi kebijakan formal negara dengan nilai adat lokal berpotensi melahirkan model kesejahteraan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Studi di Negeri Morella menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar warisan budaya, melainkan fondasi strategis dalam membangun kesejahteraan sosial berkelanjutan di wilayah pesisir Indonesia,” terang Dandung.
Dandung mengatakan bahwa riset ini dilatarbelakangi masih terbatasnya integrasi nilai adat dalam skema penyediaan kesejahteraan (welfare provision), khususnya bagi kelompok rentan seperti nelayan yang menghadapi ketidakpastian ekonomi akibat faktor cuaca, fluktuasi hasil tangkap, serta keterbatasan akses perlindungan sosial formal.
Oleh karena itu, pihaknya melakukan riset bertajuk pelestarian tradisi dan penguatan identitas lokal dalam strategi pemenuhan kesejahteraan nelayan di Ambon.
“Riset ini bertujuan melihat bagaimana tradisi dan identitas lokal dapat menjadi fondasi dalam membangun model kesejahteraan nelayan yang lebih berkelanjutan dan berbasis komunitas,” pungkasnya
Tulis Komentar