*Oleh Ishak, Kader HMI MPO Cabang Makassar
Makassar - Pagi siang setelah mendengar kabar dari kawan-kawan pengurus HMI MPO Cabang Sinjai, bahwa terjadi perusakan bentangan spanduk Selamat Datang Mahasiswa Baru, oleh oknum tidak bertanggung jawab.
Perusakan spanduk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di dua Kampus Universitas Muhammadiah Sinjai (UMSi) dan Universitas Islam Ahmad Dahlan (UIAD).
Tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan dan justru memperkeruh kondisi hubungan antar organisasi ekstra kampus. Perusakan bukan solusi untuk menarik calon kader, melainkan cermin kegagalan dalam membangun komunikasi dan persaingan sehat.
Organisasi yang kuat harus mampu menarik kader dengan program yang jelas dengan pendekatan yang positif, bukan dengan cara-cara destruktif yang merusak citra kebersaman.
Keberadaan spanduk HMI MPO sesungguhnya bukanlah ancaman bagi organisasi ekstra kampus, spanduk yang dibentangkan oleh HMI Komisariat AL-Farabi Cabang Sinjai merupakan media informasi kreatif dan penyemangat kader yang sah, serta wajar dalam lingkup organisasi.
Jika ada ketakutan berlebihan terhadap keberadaan spanduk HMI MPO, hal ini menunjukkan kurangnya rasa percaya diri dalam bersaing secara sehat dan terbuka. Alih-alih merusak sebaiknya organisasi lain memperkuat daya tarik melalui inovasi tanpa harus merusak spanduk.
Tindakan perusakan spanduk HMI MPO harus menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa persaingan organisasi ekstra kampus seharusnya dilandasi oleh rasa saling menghargai dan menjaga marwa organisasi masing-masing.
Ketidakmampuan dalam mengedepankan prinsip demokrasi dan sportif dalam persaingan organisasi, merusak spanduk yang merupakan media sah untuk menyampaikan gagasan ini adalah tindakan yang menandakan lemahnya kreativitas dan daya saing.
Membina solidaritas dan kolaborasi justru akan memperkuat iklim organisasi yang sehat dan produktif, perusakan hanya mengantarkan konflik yang merugikan semua pihak, dan menutup peluang dialog serta kerja sama yang bermanfaat.
Bagi pihak tidak bertanggung jawab agar segerah terbuka dan menyerahkan diri untuk meminta maaf atas perbuatan tercelah sehingga konflik dapat meredam.
Dialog terbuka dan penghormatan terhadap keberadaan satu sama lain jauh lebih efektif dibandingkan praktik perusakan, kekerasan simbolik kerap menimbulkan luka lama persaingan antar organisasi, dugaan keterlibatan organisasi lain dalam perusakan ini menunjuk adanya upaya sistematis untuk melemahkan posisi HMI MPO melalui praktik liar.
Ketidakdewasaan dalam berkompetisi yang lebih mengedepankan praktik liar tersembunyi dari pada kolaborasi, ini menjadi cermin ketegangan yang terpendam antara kelompok organisasi tersebut.
Dengan rasa cemas kehilangan kader atau pengaruh memicu aksi destruktif sebagai bentuk perlawanan. Namun cara ini merusak citra organisasi serta berpotensi menciptakan konflik berkepanjangan.
Tulis Komentar