Banjarbaru - Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Selatan terus memperkuat strategi ketahanan nelayan di tengah tekanan perubahan iklim yang kian dirasakan pada sektor perikanan tangkap. Pergeseran musim angin, gelombang tinggi, hingga cuaca ekstrem menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi nelayan di wilayah pesisir.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan, Rusdi Hartono, menegaskan bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan usaha nelayan.
“Perubahan iklim telah memengaruhi pola musim tangkap dan keselamatan nelayan. Karena itu, kita harus memperkuat strategi adaptasi, mulai dari pemanfaatan informasi cuaca berbasis teknologi hingga peningkatan kapasitas nelayan agar lebih siap menghadapi dinamika di laut,” ujar Rusdi di Banjarbaru, Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan, salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah penyediaan akses informasi cuaca dan musim tangkap melalui kolaborasi dengan BMKG, pemanfaatan aplikasi cuaca laut, serta radio nelayan. Hal ini bertujuan agar nelayan dapat merencanakan aktivitas melaut secara lebih aman dan efisien.
Selain itu, DKP Kalsel juga mendorong diversifikasi alat dan metode penangkapan ikan yang lebih ramah lingkungan dan adaptif terhadap perubahan musim. Dengan demikian, nelayan tidak hanya bergantung pada satu jenis komoditas maupun pola musim tertentu.
“Diversifikasi ini penting agar nelayan tetap produktif meskipun terjadi perubahan kondisi laut. Di sisi lain, keselamatan melaut juga menjadi prioritas melalui pelatihan mitigasi bencana, penggunaan alat keselamatan, serta penguatan kelembagaan SAR laut berbasis masyarakat pesisir,” tambahnya.
Di sisi produksi, Rusdi menekankan pentingnya peningkatan kapasitas usaha perikanan tangkap melalui modernisasi armada dan alat tangkap skala kecil hingga menengah yang lebih efisien bahan bakar dan mampu beradaptasi dengan kondisi laut yang dinamis.
“Modernisasi ini tentu kita sesuaikan dengan kemampuan dan ketersediaan anggaran pemerintah, namun tetap menjadi prioritas untuk meningkatkan efisiensi dan hasil tangkapan nelayan,” jelasnya.
Tak hanya itu, penguatan fasilitas pasca-panen juga menjadi perhatian, seperti penyediaan cold storage, es batu, serta peningkatan kualitas Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang higienis guna mengurangi kehilangan hasil tangkapan.
Rusdi juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) nelayan melalui pelatihan manajemen usaha, pencatatan hasil tangkap, serta pemahaman terhadap dinamika harga pasar.
“Penguatan SDM nelayan sangat penting agar mereka tidak hanya mampu menangkap ikan, tetapi juga mengelola usaha secara berkelanjutan dan memiliki daya tawar yang lebih baik di pasar,” tutup Rusdi.
Dengan berbagai strategi tersebut, DKP Kalsel optimistis ketahanan nelayan dapat terus diperkuat, sekaligus mendorong peningkatan produksi perikanan tangkap yang berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim.
Tulis Komentar