Foto: Penulis
*Oleh Ishak
Makassar - Sudut kota makassar mulai dihiasi atribut kemerdekaan, dan wajah penuh semangat mulai memenuhi ruang-ruang kota. Sebagian masyarakat memandang ini bagian biasa dari denyut kota besar.
Setiap tahunya kemeriahan hari jadi kemerdekaan RI di barengi lomba kreatif warga. Ini mencerminkan nilai kepedulian terhadap kemerdekaan serta menghormati para pejuang yang telah gugur.
Usia delapan puluh tahun kemerdekaan bukan lagi usia muda bagi suatu negara. kota makassar menyajikan pesta rakyat, lomba kreatif warga, dan upacara bendera namun di balik slogan kreativitas itu, apakah bentuk kemerdekaan yang digaungkan memperlihatkan hanya sebatas kegiatan-kegiatan seremonial semata.
Jika kita Kembali memantik salah satu misi pengabdian Mulia (walikota makassar), yakni Mengembangkan pusat inovasi dan seni budaya pariwisata. Ini tidak hanya menjadi ajang lomba karya tradisional warga melainkan juga mengangkat isu sosial sebagai bagian dari inovasi.
hal penting menjadi persoalan yang tidak pernah disorot oleh pemerintah walikota makassar bertambahnya angka anak jalanan, pengemis hingga manusia silver yang juga menghiasi sudut kota bahkan di kawasan yang menjadi pusat perayaan ini menjadi fenomena tak sekadar estetika kota atau mengganggu ketertiban umum, melainkan cermin ketimpangan sosial dan masih jauh dari makna Merdeka.
Fenomena Anak jalanan, pengemis, dan manusia silver yang semakin marak ini adalah bukti nyata ketimpangan yang tidak mendapat perhatian sehingga terkadang menunjukkan aksi tidak wajar di pinggir-pinggir jalan gejala tersebut juga menunjukkan kegagalan pemerintah kota mewujudkan kemerdekaan yang nyata.
Penulis mengajak perlu kesadaran bersama bahwa kemerdekaan bukan hanya bagaimana Kota berdandan meria dengan atribut merah putih, tapi bagaimana setiap warganya paling rentan dapat hidup layak, merasa dihargai serta mendapat kesempatan yang sama.
Anak jalanan bukanlah kelengkapan estetik kota yang mesti dihilangkan saat ada tamu atau perayaan, melainkan mereka, panggilan bagi pemerintah kota untuk membuka mata dan hati, bertindak dengan langka nyata.
Langka Pemerintah kota bergegas hanya penertiban sesaat menjelang momen-momen seremonial patroli penertiban, hingga razia namun tidak menyentuh akar masalah kemiskinan, keterbatasan pendidikan dan luput dari penanganan jangka panjang. Sikap ini ibarat menutup luka kepahitan hidup, dengan perban tanpa memastikan kondisi luka yang para, sehingga masalah kemiskinan terbatas pada akses Pendidikan dan terjerit ketimpangan terus berulang tanpa adanya perubahan.
Walikota diharap mengubah paradigma lama dan tidak mengabaikan masalah sosial. Merawat kemerdekaan, berarti merawat warga yang selama ini terpinggirkan, dengan cara tersebut waja kemerdekaan di Makassar bukan sekadar tampilan luar biasa.
Pemerintah kota diharap tidak hanya memastikan kelancaran dan kesempurnaan pelaksanaan pada 17 Agustus 2025 di Lapangan Karebosi, serta sibuk menata wajah kotak agar rapi menyambut tamu dan perayaan. lebih dari itu sudah saatnya mengangkat martabat mereka yang selama ini terpinggirkan.
Keterbatasan dalam penanganan jangka panjang menunjukkan adanya kurangnya visi, misi dan keberanian politik untuk memberdayakan Masyarakat kota.
Tampa strategi yang berkelanjutan dan komitmen, upaya dekorasi kota serta perayaan kemerdekaan menjadi kosong tidak bermakna.
Di usia delapan puluh tahun kemerdekaan, sudah seharusnya menghadirkan komitmen dan strategi baru yang lebih beradab dan progresif. Suda saatnya pemerintah kota menampilkan wajah baru kota makassar yang inklusif dan berkarakter, bukan hanya sekedar memasang dekorasi serta lampu di setiap lorong-lorong kota.
Janji bahwa tak satupun warga apalagi anak -anak jalanan ditinggal dalam pusaran kemiskinan di kota makassar.
Pertama pemerintah kota harus memperkuat program pemberdayaan sosial bagi anak jalanan, pengemis dan manusia silver hal ini bisa dimulai dengan mendirikan pusat rehabilitas dan Pendidikan alternatif setidaknya ini menjadi Solusi untuk memberikan mereka kesempatan mengembangkan keterampilan hidup.
Seni dan budaya dapat dijadikan media pemberdayaan termasuk anak-anak jalanan sehingga mereka memperoleh ruang untuk mengekspresikan diri sekaligus mengakses peluang ekonomi melalui kreativitas.
Program pemberdayaan tersebut juga harus inklusif dan berkelanjutan tidak hanya mengutamakan estetika kota dan interaksi tetapi meningkatkan kualitas hidup warga.
Dengan demikian, refleksi atas fenomena sosial ini dapat menjadi dorongan bagi Wali Kota Makassar untuk membuktikan bahwa makna sejati kemerdekaan benar-benar hadir untuk setiap warga kota, tidak terkecuali untuk mendapat perhatian. Maka dari itu misi Wali Kota Makassar harus disegerakan dengan tindak yang mengintegrasikan kreativitas dan inovasi dengan program sosial yang berorientasi pada pemberdayaan.
Slogan kreativitas dan kemerdekaan dapat benar-benar mengakar, bukan sekedar menjadi festival semu diatas penderitaan, melainkan kemerdekaan yang sesungguhnya, merata, beradab dan tentunya berkeadilan bagi Masyarakat warga Makassar.
Bagi penulis upaya ini sebagai bentuk pembelaan terhadap kemiskinan warga Kota Makassar, walaupun dikemas dalam bentuk penulisan, yang terpenting penulis Kembali mengingatkan pemerintah kota untuk segera mengambil langkah strategis untuk memberdayakan Masyarakat menengah kebawah.
Tulis Komentar